yehezgun.com
Go Back

Pentingnya Peranan Mentor Dalam Karir Sebagai Programmer

Daftar Isi

Pendahuluan

Tulisan ini sebenarnya adalah pengalaman saya sepanjang kuliah hingga lulus dan bekerja sebagai full-time programmer. Ini juga merupakan ungkapan terima kasih saya kepada senior saya sekaligus yang saya anggap mentor yang membantu saya dalam pengembangan diri saya sebagai developer sejak masih menjadi mahasiswa.
Sejujurnya, sejak awal kuliah sebagai mahasiswa Informatika sampai semester 5, saya masih buta dan tidak tahu arah spesialisasi apa yang harus saya dalami dalam dunia pemrograman. Memasuki semester 6, mata saya semakin terbukakan dengan banyaknya bidang pekerjaan dalam dunia IT yang tentu membuat kepala pusing 7 keliling.
Di kampus tempat saya belajar saat memasuki semester 6, banyak mahasiswa sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk melamar intership atau magang ke beberapa perusahaan. Ada yang melamar sebagai front-end engineer, ada juga yang back-end. Beberapa teman bahkan ada yang melamar magang sebagai data scientist, wow.
Saya kembali melihat ke dalam diri saya saat itu dan timbullah rasa gelisah mengenai bidang apa yang ingin saya tekuni secara spesifik. Syukurlah saya sempat bertemu dengan beberapa orang ini. Mereka adalah senior-senior yang sekaligus saya anggap sebagai mentor yang telah mengubah pandangan dan pikiran saya. Sampai lulus sekarang pun, saya tetap mengingat nasihat-nasihat yang pernah mereka berikan kepada saya saat itu.
Di artikel ini saya akan share bagaimana peranan mentor sangat mempengaruhi karir saya sebagai programmer.

Lebih dari Sekedar Koordinator Asisten Laboratorium

Semasa saya menjadi mahasiswa IT, saya juga melakukan part-time job sebagai asisten laboratorium di kampus saya (biasa disebut aslab). Setiap aslab memiliki koordinator (atau koor) masing-masing. Saat itu, saya memiliki koordinator bernama ko Wendy.
Pembawaannya yang begitu blak-blakan membuatnya dikenal sebagai orang yang galak dan ditakuti oleh banyak mahasiswa. Setiap ada mahasiswa yang kedapatan melakukan plagiat, pasti akan langsung diproses untuk mendapatkan nilai 0 dan akan diberikan surat peringatan oleh fakultas. Saya pun pada awalnya berpikir seperti itu.
Tetapi, semua berubah ketika minggu UAS selesai dan kami para aslab diajak makan bersama olehnya di sebuah restoran di Alam Sutera. Di sana, saya mendengar obrolan yang belum pernah disingkapkan. Beliau menjelaskan mengapa beliau berlaku seperti itu dengan detailnya. Pandangan saya pun berubah sejak itu.
Satu nasihat yang saya ingat betul adalah Jangan terpaku sama nilai aja. Percuma nilai A tapi gak bisa ngoding bener. Mending nilai C, tapi di dunia real-nya bisa bikin karya yang ciamik.. Begitulah kira-kira apa yang beliau katakan.
Saya pun setelahnya sesekali menyempatkan diri untuk datang ke ruangannya atau terkadang beliau yang datang ke laboratorium tempat saya berjaga. Saya sempat ditanyai, Jadi, bidang apa yang mau didalami nih? Jangan bilang semuanya ya. Pilih dong bidang mana yang mau dipelajari lebih secara spesifik!. Nadanya yang tegas tetapi sambil tertawa membuat jantung saya hampir copot.
Saya sih minatnya web ko. Tapi bingung nih front-end atau back-end yang mau didalami secara spesifik. Begitulah jawab saya saat itu.
Mendengar jawaban saya, dengan pengetahuan dan pengalamannya sebagai fulltimer, beliau menjelaskan dengan detail pilihan-pilihan apa yang tersedia sesuai dengan jawaban yang saya berikan. Sebagai mahasiswa yang masih polos saat itu, saya pun hanya bisa tertegun mendengar penjelasannya. Namun ada nasihat yang masih menempel di kepala saya, Perdalam aja dua-duanya. Fullstack dulu deh. Mulai dari front-end, baru deh ke backend. Mana yang paling bikin bergairah dan lupa waktu saat belajar, itu yang harus dikejar!.
Nasihat itulah yang membuat saya seperti sekarang ini. Ya sekarang saya telah menjadi front-end engineer di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Di waktu senggang, saya menyisihkan sedikit waktu saya untuk mempelajari back-end dan cloud computing.
Sekarang ko Wendy telah menjadi instruktur Full-Stack Javascript di Hacktiv8 yang didirikan oleh Riza Fahmi. Walaupun saya sudah lulus, ko Wendy masih memberikan rekomendasi di LinkedIn saya sewaktu saya mencari kerja.

Lebih dari Sekedar Project Leader

Time skip ke tahun 2021 ini, di mana saya telah bekerja sebagai front-end engineer. Di suatu malam setelah saya selesai makan malam, saya menerima chat dari seorang senior lama, sebut saja ko CW (inisial), seorang asisten manager di salah satu e-commerce enabler di BSD. Saya ditawari sebuah project freelance atau side project olehnya.
Awalnya saya ragu untuk menerimanya. Mengingat saya sudah terbiasa dengan kodingan berbasis Javascript dan Typescript, agak butuh waktu apabila ingin mempelajari bahasa pemrograman lain. Rupanya, project yang ditawarkan kepada saya ini menggunakan framework PHP, yaitu Laravel.
Meskipun saya sempat menggunakan Laravel, tetapi itu sudah cukup lama dan perlu waktu untuk kembali mempelajarinya. Akhirnya, saya pun mengiyakan ajakannya karena saya juga ingin menambah pengalaman mengerjakan proyek freelance.
Sejak minggu pertama, saya dikenalkan dengan metode Agile Development menggunakan Scrum dan Kanban board. Walaupun saya sudah familiar dengan istilah ini sejak kuliah, namun ini adalah kali pertama saya menerapkan prinsip ini secara real di project ini.
Saat sprint planning, semua task dipecah-pecah secara detail dan bahkan dideskripsikan secara jelas. Mulai dari judul task, struktur direktori, hingga penamaan file pun sudah ditentukan sejak awal. Terasa melelahkan saat planning, tetapi semuanya worth it karena hari-hari berikutnya saya dan rekan saya yang lain bisa fokus untuk develop tanpa pusing yang lainnya.
Ketika daily sprint, saat ada yang mengalami hambatan, ko CW menyempatkan dirinya untuk melakukan pair programming untuk membantu mencarikan solusi. Saya pun jadi terlatih untuk membuat clean code, walaupun tidak terlalu clean tapi setidaknya saya belajar menerapkan best practice-nya menggunakan Laravel. Bahkan rekan saya yang masih pemula tidak mengalami hambatan yang berarti saat proses development karena dibimbing oleh ko CW.
Prinsip yang beliau ajarkan sampai-sampai saya terapkan juga di pekerjaan utama saya yang sekarang. Bahkan, saya sampai mengusulkan kepada Project Manager di tempat saya bekerja untuk menerapkan metode Agile ini agar proses development bisa lebih fleksibel dan adaptif.

Kesimpulan

Memiliki senior yang saya jadikan panutan bahkan mentor sangat mempengaruhi karir saya sebagai programmer hingga sekarang. Dari awalnya saya yang masih buta terhadap bidang yang ingin saya tekuni, hingga sekarang saya bisa bekerja sebagai fulltime front-end engineer, itu juga tak lepas karena saya pernah bertemu, bekerja bersama, bahkan belajar bersama mereka.
Dari para senior inilah saya terdorong untuk menjadi advisor di Bangkit Academy untuk Cloud Computing Path. Walaupun saya belum menguasai bidang Cloud secara mendalam, hanya bagian web development-nya saja, setidaknya saya bisa menemani para mahasiswa yang bergabung saat mereka belajar dan sharing berdasarkan apa yang pernah saya alami.
Secara garis besar, inilah dampak yang saya alami ketika memiliki mentor:
  • Sangat terbantu saat menentukan arah
Seperti yang ceritakan di atas, sampai semester 5 sewaktu kuliah, saya masih bingung spesialisasi apa yang harus saya dalami. Beruntunglah saya kenal dengan ko Wendy. Beliaulah yang mengenalkan dunia web development pertama kali kepada saya secara mendetail, mulai dari best practice hingga bidang spesialisasi apa saja yang ada di sana. Padahal saat itu hanya ngobrol-ngobrol biasa.
  • Melatih diri untuk menerapkan clean code
Sejak saya pernah freelance bersama ko CW, saya jadi mulai terbiasa dengan clean code. Saat minggu pertama bekerja dengannya, kodingan saya hampir selalu kena komentar saat di-review. Tetapi, justru itulah yang akhirnya membuat saya tahu untuk membuat kode yang lebih efektif dan efisien, sehingga bisa lebih maintainable ke depannya.
  • Mengasah kemampuan berkomunikasi
Tanpa saya sadari, saya cukup sering datang kepada para senior saya ini walaupun hanya sekedar minta bantuan saat project saya mengalami kendala dan itu membuat saya berani untuk speak up dan mendorong saya untuk menjelaskan apa yang telah saya buat dengan bahasa yang mudah dimengerti. Hal inilah yang akhirnya membuat saya sadar, menjelaskan masalah kepada orang lain dengan bahasa yang sederhana akan sangat membantu dalam menentukan solusi yang diinginkan.

Bagaimana jika belum atau tidak memiliki mentor? Ini sedikit tips dari saya:
  • Mulai dari orang terdekat.
Dalam circle pertemanan seseorang, pasti setidaknya ada satu orang yang bisa dijadikan panutan. Entah itu, teman sebaya, senior, bahkan atasan di kantor. Jaga relasi dengan mereka. Tirulah kebiasaan positif dari mereka yang biasa mereka lakukan. Itu akan sangat membantu membuat perubahan dalam hidup.
Jika beruntung, sesekali nongkrong atau bercengkramalah dengan mereka. Pasti suatu saat akan ada obrolan yang belum pernah tersingkapkan sebelumnya, karena orang yang terpelajar dan berpengalaman tidak akan menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.
  • Temukan orang yang dapat dijadikan panutan.
Apabila belum atau tidak mendapatkan panutan dari orang terdekat, bisa juga lewat media sosial, komunitas, atau bahkan kanal seperti Youtube. Mungkin tidak perlu sampai menjalin pertemanan karena rasanya agak sulit. Tetapi setidaknya, tirulah hal-hal positif dari mereka, misalnya gaya kodingnya atau hasrat problem solving-nya.
Setidaknya itulah sharing dari pengalaman dan tips dari saya. Mereka memang bukan dosen saya secara langsung, tetapi berkat nasihat dan bimbingan merekalah saya bisa seperti yang sekarang ini. Terima kasih para senior yang sekaligus saya anggap sebagai mentor.
Semoga bisa menginspirasi anda semua yang membaca. Selamat menemukan sosok mentor atau panutan yang diimpikan.
Benarlah seperti yang Benjamin Franklin pernah katakan,
"Tell me and I forget. Teach me and I may remember. Involve me and I learn.”
Apabila ada hal yang ingin didiskusikan, bisa berikan komentar pada kolom yang tersedia supaya bisa mendapatkan insight baru. Terima kasih.
Salam koding;
Back to Articles

2021 | Yehezkiel Gunawan